ANALISIS TINGKAT GOLONGAN PUTIH PADA PEMILIHAN WALIKOTA (PILWALI) 2018 DI KOTA MAKASSAR

  • Bachtiar Bachtiar Universitas Pejuang Republik Indonesia
Keywords: Golongan putih, pemilihan Walikota

Abstract

Terdapat sejumlah analisis untuk menjelaskan pertanyaan mengapa terdapat fenomena golput di banyak daerah. Jika dihubungkan dengan fenomena pilwali di Kota Makassar maka menurut penulis bahwa lebih sesuai jika mengunakan analisis ketiga dan kelima sebagai kerangka dasar analisis untuk memahami fenomena tentang relatif tingginya jumlah golput. Tingkat partisipasi pemilih di Kota Makassar pada pemilihan walikota tahun 2018 menurun bila dibandingkan pada tahun 2013 yakni tingkat partisipasi pemilih berada di angka 59,94 persen, dan pada tahun 2018, partisipasi pemilih turun sekitar dua poin menjadi 57,02 persen.

Secara umum terdapat dua pendekatan untuk menjelaskan kehadiran pemilih atau ketidakhadiran pemilih dalam suatu pemilu. Pendekatan pertama menekankan pada karakteristik social dan psikologi. Sementara itu, pendekatan kedua menekankan pada harapan pemilih tentang keuntungan dan kerugian atas keputusan mereka untuk hadir atau tidak hadir dalam memilih. Faktor yang menyebabkan. Faktor yang mempengaruhi prilaku tidak memilih (Golput) adalah: 1) Faktor Sosial Ekonomi: Menempatkan variabel status sosial-ekonomi sebagai variabel penjelasan perilaku non-voting selalu mengandung makna ganda. Namun, pada sisi lain variabel tersebut juga dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur karakteristik pemilih non-voting itu sendiri. Setidaknya ada empat indikator yang bisa digunakan mengukur variabel status sosial ekonomi, yaitu tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, pekerjaan dan pengaruh keluarga. 2) Faktor Psikologis: Orang yang mempunyai kepribadian yang tidak memilih atau non-voting dari faktor psikologis pada dasarnya dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama, berkaitan dengan ciri-ciri kepribadian seseorang. Kedua, berkaitan dengan orientasi kepribadian. Penjelasan pertama melihat bahwa perilaku non-voting disebabkan oleh kepribadian yang tidak toleran, otoriter, tak acuh, perasaan tidak aman, perasaan khawatir, kurang mempunyai tanggung jawab secara pribadi, dan semacamnya toleran atau tak acuh cenderung untuk tidak memilih. 3) Faktor Rasional: melihat kegiatan memilih sebagai produk kalkulasi untung dan rugi. Yang dipertimbangkan tidak hanya “ongkos” memilih dan kemungkinan suaranya dapat mempengaruhi hasil yang diharapkan, tetapi juga perbedaan dari alternatif berupa pilihan yang ada.

Published
2018-09-26